Yunanto Wiji Utomo | Inggried Dwi Wedhaswary | Minggu, 9 Oktober 2011 | 11:32 WIB


NASA/JPL-Caltech/UMD Komet Hartley 2 direkam wahana Epoxi.

KOMPAS.com – Astronom mengemukakan bahwa air dan samudera yang terdapat di bumi berasal dari komet. Hal ini diungkapkan menyusul hasil analisa komet Hartley 2 dengan Herschel Space Observatory yang dipublikasikan di jurnal Nature, Rabu (5/10/2011) lalu.
“Hasil penemuan kami menunjukkan, komet memiliki peran besar membawa air dalam jumlah besar ke bumi purba. Ini memperluas kemungkinan sumber air serupa samudera Bumi di Tata Surya, yang kini mencakup komet dari Sabuk Kuiper,” kata Dariusz Lis dari California Institute of Technology.
Komet Hartley 2 adalah komet yang berasal dari Sabuk Kuiper, wilayah berjarak 30-50 kali jarak bumi-matahari yang merupakan kampung halaman dari planet kerdil dan komet. Komet Hartley 2 diketahui memiliki air yang dengan sifat kimia mirip dengan air di bumi.
Ilmuwan lewat teorinya mengungkapkan, bumi pada awalnya panas dan kering sehingga air sebagai unsur kehidupan pasti berasal dari asteroid ataupun komet yang menumbuk bumi. Hingga sebelum penemuan Hartley 2, tak ada bukti bahwa komet memiliki air serupa di bumi.
Dalam penelitian, dengan bantuan Herschel, astronom mengobservasi coma Hartley 2. Coma adalah bagian yang terbentuk akibat adanya materi komet yang menguap saat komet bergerak mendekati Matahari. Pada coma itulah, ilmuwan menemukan tanda adanya uap air.
Hasil analisa lebih lanjut mengungkap bahwa Hartley memiliki air berat dan air reguler dengan proporsi sama dengan bumi. Air reguler ialah air yang biasa kita kenal, H2O. Seementara air berat adalah air yang molekul hidrogen-nya digantikan oleh deuterium.
Ilmuwan mengungkapkan, saat ini, ada 5 komet yang rasio air berat dan air regulernya telah diketahui. Kelimanya berasal dari Awan Oort, sebuah daerah tata surya yang jaraknya 10.000 kali jarak ke Sabuk Kuiper dan merupakan daerah asal dari sebagian besar komet yang telah terdata.
Sampai sejauh ini, ilmuwan beranggapan bahwa depositor besar air di bumi adalah asteroid yang berasal dari daerah antara Mars dan Jupiter. Hasil analisa Hartley 2 membuat ilmuwan berpikir bahwa komet dari Sabuk Kuiper yang selama ini dianggap kurang berperan ternyata punya kontribusi.
Bagaimana proses komet dan asteroid datang dan ‘menciptakan’ air di bumi masih menjadi teka-teki. Geoffrey Blake, professor ilmu keplanetan dari Caltech yang juga terlibat penelitian ini mengatakan, pemahaman tentang distribusi unsur dan dinamika tata surya belum lengkap.
Seperti dikutip Physorg Rabu lalu, Blake mengatakan, “Pada awal tata surya, komet dan asteroid pasti bergerak ke semua tempat. beberapa dari mereka mungkin mendarat dan menabrak di planet kita, lalu menciptakan samudera,” katanya.
Sumber :
Physorg