Tahun kabisat dalam bahasa inggris disebut dengan Leap Year. Bulan yang unik pada tahun kabisat adalah bulan Februari. Jika kita perhatikan pada Februari ini, bulan ini memiliki 29 hari, berbeda dengan Februari pada tiga tahun terakhir yang hanya memiliki 28 hari. Tahun yang memiliki 29 hari pada bulan Februari adalah yang disebut dengan tahun kabisat.

Tahun kabisat terjadi berawal dari reformasi kalendar yang dilakukan oleh Julius Caesar, salah satu kaisar Romawi, pada tahun 46 sebelum masehi. Penanggalan pada masa itu dianggap kurang tepat, karena tidak sesuai dengan pergantian musim. Begitu tahun bertambah, maka selisih ketidak sesuaian tersebut semakin terlihat. Oleh karena itu Julius Caesar memerintahkan seorang ahli perbintangan yang bernama Sosigenes untuk menciptakan penanggalan yang bisa memperbaiki penanggalan yang sudah ada, supaya sesuai dengan pergantian musim.

Sosigenes mengungkapkan bahwa peredaran bumi mengelilingi matahari adalah sekitar 365,25 hari. Apabila dihitung dalam jam maka yang benar adalah 365 hari 5 jam 48 menit 45,1814 detik. Namun, jumlah hari dalam setahun tersebut kemudian digenapkan menjadi hanya 365 hari, sehingga terjadi selisih sekitar seperempat hari dalam setahun. Sehingga kekurangan tersebut akan menjadi satu hari jika digabungkan selama empat tahun. Atau jika dihitung dalam satuan jam, akan menjadi 23 jam 15 menit 0,256 detik. Kekurangan satu hari ini akan menjadi tambahan hari pada bulan Februari yang memiliki jumlah hari paling sedikit, yaitu 29 hari. Jika satu hari ditambahkan, maka bulan Februari akan menjadi 30 hari.

Ketika Julius Caesar digantikan oleh Agustus, sistem penanggalan ini pun kemudian dirubah. Kaisar baru tersebut mengganti bulan Hexelius menjadi bulan Agustus dan menambahkan satu hari pada bulan ini. Sehingga bulan Agustus yang sebelumnya hanya 30 hari, menjadi 31 hari. Satu hari tersebut diambilkan dari satu hari di bulan Februari. Pada akhirnya adalah jumlah hari pada bulan Februari berjumlah 28 hari, dan bertambah menjadi 29 hari pada tahun kabisat.

Pola penanggalan tersebut berlaku hingga saat ini. Tahun kabisat pun tidak lagi terdiri dari 365 hari seperti tiga tahun sebelumnya, akan tetapi menjadi total 366 hari. Agar lebih mudah mengingat, pemahaman umum yang berkembang di masyarakat, tahun kabisat adalah tahun yang bisa dibagi empat. Contohnya adalah tahun 2012:4=503.

Akan tetapi mengingat 5 jam 48 menit 48,1814 detik kurang dari 6 jam, maka tahun-tahun yang bisa dibagi 100 (contonya tahun 1800) bukanlah tahun kabisat. Perkecualian dilakukan pada tahun yang bisa dibagi 400. Misalnya tahun 2000, tahun ini adalah tahun kabisat, karena meskipun bisa dibagi 100, tahun ini bisa dibagi 400. Perhitungan itu diciptakan oleh ahli perbintangan Christopher Clavius, dengan perintah dari Paus XIII.

Kesimpulan yang bisa didapatkan dari atas adalah, tahun yang bukan merupakan tahun kabisat memiliki bulan Februari dengan hari berjumlah 28 hari. Tahun kabisat adalah tahun yang memiliki bulan Februari berjumlah 29 hari. Sementara itu bulan yang memiliki hari berjumlah 30 adalah April, Juni, September dan November. Dan bulan yang memilik hari berjumlah 31 adalah Januari, Maret, Mei, Juli, Agustus, Oktober dan Desember.

Semoga bermanfaat….